Sepenggal Kisah Dalam Angkot

Hari ini pulang 15menit lebih awal. Seangkot ma 2 orang sekantor (baca: instansi), tp aku ga tau beliau-beliau siapa. Sepertinya dari kantor yang di jakarta. Mereka tampak angkuh, mereka duduk di dekat pintu. Setiap ada penumpang yang lain, mereka tak sedikit pun bergeser. Bahkan seorang diantara keduanya malah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti penumpang yang baru naek. Hingga wajah penumpang tersebut menjadi kesal.

Ga cuma sekali aku ngeliat penumpang-penumpang yang egois seperti itu. Dan mungkin secara tidak sadar aku juga pernah melakukan hal itu. Mungkin hal itu hanya hal sepele. Tapi, setelah aku pikir dan aku renungkan. Begitu banyak kelakuan-kelakuan yang tidak sepele ini bisa menyakiti orang lain.

Yang aku paling ingat, ada satu ibu-ibu yang selalu baju kantor berwarna coklat tua. Kami selalu menggunakan angkot yang sama untuk ke daerah bawah. Jika beliau menjadi guru PPKN, mungkin aku ga akan pernah melanggar tata tertib di sekolah. Garis-garis wajah beliau sangat tajam, sehingga beliau tampak sangat angkuh. Ibu kantoran itu selalu duduk di sebelah pintu. Hanya beliau sendiri duduk di bangku sisi tersebut, sedangkan sisi depannya (tempat aku duduk) bisa dibilang hampir penuh.
Waktu itu, ada seorang ibu penjual jamu yang akan naek angkot (tentunya bawa barang dagangannya). Ibu penjual jamu berusaha memasukkan barang dagangannya yang masih utuh (berat pastinya). Dengan bantuan beberapa orang di dalam angkot akhirnya barang dagangan tersebut berhasil dimasukkan.

Sisi tempat duduk yang memungkinkan untuk ibu penjual jamu itu duduk adalah sisi tempat Ibu kantoran. Tetapi, tak sedikitpun juga Ibu kantoran itu menggeser dan memposisikan kakinya untuk memberikan sedikit jalan bagi Ibu penjual jamu agar bisa duduk lebih dalam daripada nya (jika memang Ibu kantoran tersebut tetap ingin duduk di deket pintu) atau dengan menggeser BOKONGnya untuk memberikan tempat duduk yang bisa dengan mudah dan cepat Ibu penjual jamu tempati.
Di tambah suatu kondisi bahwa sopir angkot yang selalu tidak sabar menunggu sampai penumpangnya duduk manis. Angkot sudah mulai digas.
Oh, My GOD…
Ibu penjual jamu tersebut hampir jatuh tersungkur..

argghhh manuasia apa ini Tuhan,
aku berteriak dalam hati..
Egois sekali ya TUhan,
Ibu kantoran ini, benar-benar angkuhh!!!
Tak sedikitpun merasa kasian dan iba kepada orang yang sedang kesusahan,

Akhirnya Ibu penjual jamu mendapatkan tempat duduk yang lebih di dalam drpada ibu kantoran itu. Dan tak sedikitpun, raut muka Ibu kantoran itu merasa bersalah, dan meminta maaf kepada ibu penjual jamu.

Oh, Tuhan..
Astagfirullah..
Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagiku,
agar aku selalu care dan aware dengan sekelilingku..

Jaga hamba ya Allah,
Sadarkanlah hamba, dan orang-orang yang berada dalam kondisi seperti 2 orang yang se-instasi dengan hamba dan Ibu kantoran tersebut ya Allah,
agar kami lebih peduli,
BErikanlah kesabaran dan ketabahan kepada hamba dan orang-orang yang berada pada kondisi seperti Ibu penjual jamu itu Ya Allah,
agar kami selalu berada dalam jalan Mu, jalan yang lurus..
Jalan yang penuh dengan petunjuk, tuntunan serta berkahMu..
Agar kami selamat di dunia dan akhirat,
AMiinn..

One thought on “Sepenggal Kisah Dalam Angkot

  1. oRiDo April 3, 2008 at 2:44 pm Reply

    baru naek angkot aja udh nge-sok gitu yah..
    gimana klo naek be em we..🙂

    tapi emang sih..
    klo udh di angkot biasa nya pengen status quo deket pintu kluar, gak peduli banyak orang lewat..
    hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: