BIUS (Beasiswa ITB Untuk Semua)

Alhamdulillah,
akhirnya punya bahan buat nulis lagi😀

Apakah itu BIUS atau Beasiswa ITB Untuk Semua? Beasiswa dari ITB yang diberikan kepada 50 orang (untuk tahun ini) calon mahasiswa untuk bisa kuliah di ITB secara gratis..
Bebas uang kuliah dan dapat bantuan untuk kebutuhan sehari-hari selama maksimal 5tahun. Tujuan diadakannya beasiswa ini adalah mewujudkan kesamaan rataan hak merasakan pendidikan tinggi bagi insan-insan cerdas Indonesia yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi hanya alasan biaya.

Penggalangan dana untuk beasiswa ini didapatkan dari berbagai macam sumber. Baik dari sponsor, perusahaan swasta, BUMN maupun dari dompet alumni..

Dari 3000 siswa yang mendaftar, telah terseleksi 200 orang untuk diberangkatkan dari kampung halaman masing-masing seluruh Indonesia untuk mengikuti test USM di ITB. (Akan tetapi yang ikut test hanya 196 orang. 3 orang mengundurkan diri, dan 1 orang lagi tidak terdeteksi keberadaanya). Dari 196 orang ini akan dipilih 50 orang terbaik (yang memenuhi standart nilai dasar untuk masuk ITB) untuk mendapatkan BIUS.

Alhamdulillah, lagi, kemarin saya sempat terlibat dalam relawan Kring-Kring untuk BIUS. Tugas saya adalah searching dan monitoring keberangkatan 11 anak dari Jatim menuju Bandung. Saya harus melakukan segala macam cara untuk bisa mengkontak ke-11 anak tersebut. Hanya beberapa saja dari anak-anak tersebut yang punya telepon rumah atau HP. Akan tetapi syukurlah tidak ada kendala apapun, akhirnya semua dapat terkontak..
Saya menelepon ke sekolah masing-masing, dan Subhanallah guru-guru dari pihak sekolah sangat mendukung sehingga beliau-beliau mau mencarikan informasi nomor kontak anak nya atau orang tuanya…
Hingga akhirnya ke-11 anak tersebut dapat berangkat ke ITB tanpa kendala satu apapun..

Kebanyakan dari peserta BIUS adalah anak-anak dari pelosok..
Hingga H-1 keberangkatan ada 2 anak yang belum bisa terkontak sama sekali (di daerah pelosok Sumatra Selatan). Yang satu anak, hingga hari ini belum ditemukan.

Ada babak drama seru untuk menemukan 1 anak yang lainnya. Dalam 1 kecamatan, daerah tempat tinggal anak tersebut hanya ada 3 alamat rumah yang mempunyai telepon dan terdaftar di 108. Syukurlah ada salah satu alumni ITB yang berada satu kabupaten dari daerah salah seorang anak tersebut. Sang Alumni mendatangi langsung ke daerah sang anak untuk mencari sang anak (perjalanan cukup jauh, 1jam dari kota sang Alumni, dengan jalan Sumatra yang cukup terjal). Perjuangan yang tak sia-sia.
Dan syukurlah satu anak tersebut ditemukan. Dia sangat terheran-heran, karena juga baru tahu hari itu juga (H-1 daftar ulang), bahwa dia lolos seleksi pertama untuk mendapatkan BIUS. Karena surat pemberitahuan dari ITB belum sampai ke sekolahnya. Dia sangat senang dan menjadi sangat antusias, bersemangat..
Babak drama pertama sudah usai, akan tetapi masih ada babak drama ke-2. Permasalahan mulai muncul.
Terdapat beberapa surat penting yang harus disiapkan untuk kebutuhan daftar ulang di ITB, yaitu diantaranya surat keterangan dari sekolah (yang menyatakan bahwa sang anak sudah mengikuti UN) dan Akta kelahiran.
Sang Anak bingung, karena memang tidak mungkin bisa membuat surat keterangan dari sekolah pada hari itu juga. Hari sudah sore dan sekolah cukup jauh (mungkin sudah tutup). Alhamdulillah, kartu UN anak tersebut masih ada jadi masih bisa digunakan sebagai pengganti.
Kemudian, surat kedua adalah akta kelahiran. Sang Anak tidak mempunyai akta kelahiran, oh mungkin wajar, bagi beberapa orang membuat akta kelahiran merupakan sesuatu hal yang mewah dan mahal. Akan tetapi surat keterangan lahir pun tidak ada. Dulu pernah membuat, tetapi sudah entah kemana. Oh My Lord,…
Akhirnya diputuskan untuk membuat surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan bahwa akan disusulkan surat keterangan lahir dalam waktu tertentu.
Babak ke-2 selesai.
Dan akhirnya, sang Anak langsung diberangkatkan ke Bandung dan sampai di Bandung dengan selamat. Akan tetapi perjuangan belum usai. Pada saat pendaftaran Sang Anak masih bermasalah dengan akta nya. Babak ke-3, dimulai. Sang anak pucat-pasi karena takut dipulangkan dan tidak bisa mengikuti test akibat tidak ada akta kelahiran. Sang anak menunggu disudut dengan wajah memelas dan putus asa. Tapi akhirnya, dengan sedikit bersabar. Perjuangan sang anak ke Bandung tidak sia-sia. Dia bisa mengikuti ujian di hari esoknya..

Sungguh cerita yang mengharukan. sedikit cermin dari negaraku Indonesia. Jangankan internet, surat saja, masih belum pasti bisa sampai ke daerah dan satu lagi, kenapa pembuatan akta kelahiran begitu “mahal” hingga ada yang tidak mampu untuk membuatnya??

Masih banyak berbagai macam cerita seru lainnya. Tentunya membuat semakin banyak lebih bersyukur, dan lebih banyak belajar…

Sempat berpikir dan terlintas sejenak penyesalan selama kuliah dulu. Saat sang waktu itu masih punyaku. Apa saja yang aku lakukan untuk sekelilingku..
Tidak ada kata terlambat, belajar dan berbuat itu bisa kapanpun.. Dan syukurlah aku bisa mendapat pelajaran berharga..
Dan aku bisa mengenal orang-orang yang sungguh berharga. Orang-orang yang sejak dulu sudah ingin mengubah nasib bangsanya. Dan yang idealisme nya masih tetep utuh walaupun telah hilang pangkat “mahasiswa” nya di bahu kanannya. Ternyata masih ada orang yang bernasionalisme, dan beridealisme seperti beliau-beliau. Melakukan dengan senang hati, ikhlas jiwa dan raga hanya untuk perbaikan bangsa..
Subhanallah…

Begitu banyak cerita yang membuat semangat,….
Ada yang mengayuh sepeda “tuil” nya untuk bisa mencapai sekolah demi mendapatkan wejangan dari sang guru sebelum keberangkatan. Tetapi saat sang anak sampai di rumah sang guru, sang guru tiba-tiba sedang pergi keluar. Dan hal ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berkali. Karena jika pulang ke rumah nya lagi perjalanan sangat jauh, maka ia putuskan untuk tinggal di sekolah (yang tidak jauh dengan rumah sang Guru). Membaca buku di perpustakaan atau jika melihat gedung sekolahnya kotor akibat hujan deras, dia membersihkan sekolah. Hingga membuat di hari-H ujiannya, kondisi sang anak menjadi kurang fit.
Ada yang tidak mendapatkan persetujuan dari sang guru untuk masuk ke ITB, karena keyakinan sang guru (ato lebih tepatnya, ke-pesimis-an sang guru) hingga membuat sang Anak stress dan pingsan di hari pertama. Tapi syukurlah, dia berhasil melewati test hari ke-2 dengan sukses. Dan pulang ke kampung halaman dengan tambah semangat..
Ada yang menginap di bandara sejak jam 12 malam untuk bisa terbang pada jam 6 pagi. Karena tidak ada kendaraan umum dari daerahnya setelah jam 12 malam.
Ada yang bingung mencari biaya untuk perjalanan dari rumah ke bandara,
Ada yang menggunakan motor (perjalanan sepanjang 3jam). Berangkat pagi2 buta (jam 2.30 dini hari) untuk bisa sampai bandara sebelum jam 6 pagi…
OH, Tuhan..
Dan saat di asrama pun (disediakan panitia, di Bandung), mereka harus bangun jam 2-3 dini hari agar semua persiapan selesai tepat waktu sehingga tidak telat ujian..

Subhanallah sekali perjuangan mereka untuk sekolah tinggi…
Semoga mereka mendapatkan yang terbaik…
Walaupun akan ada beberapa diantara mereka yang tidak mendapatkan BIUS, setidaknya mereka sudah mendapatkan pelajaran berharga dengan menjadi lebih ambisius terhadap mimpi-mimpinya, pantang menyerah dan terus bekerja keras dan cerdas untuk mengubah nasib bangsanya dan memperjuangkan hak-hak mereka (mendapatkan pendidikan yang sama dengan orang yang lebih berada)

Dan semoga program BIUS ini dapat perjalan lancar, dan setiap tahun bisa bertambah donasi dari segala pihak sehingga bertambah pula jumlah calon-calon pemimpin bangsa yang bisa dibiayai untuk mengenyam pendidikan di ITB…

Bravo, ITB untuk semua…
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

5 thoughts on “BIUS (Beasiswa ITB Untuk Semua)

  1. purna June 4, 2009 at 3:29 pm Reply

    Awesome mbak, Seperti petualangan mencari harta karun.
    Semoga mereka yang terBIUS bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik ya.

    Amiiiiinnn,…
    Terimakasih Dek..

  2. Choiri Setyawan™ June 15, 2009 at 11:53 am Reply

    hm.. namanya BIUS sich.. hehehe…

    BIUS tapi menyadarkan.😀
    walaupun pendidikan mahal, tapi orang miskin punya hak dan kesempatan yang sama untuk merasakannya. hehehe..

  3. Ima August 25, 2009 at 8:57 am Reply

    Subhanallah.. terharu bgt aku bacanya Nen…
    Ironis sekali… Justru kita2 yg cukup mampu, malah seringkali bermalas-malasan buat belajar/sekolah.
    Sedangkan mereka dg perjuangan yg sedemikian beratnya, msh saja punya semangat tinggi untuk bersekolah.
    Fiuh.. Speechless…🙂

  4. helmi November 18, 2010 at 10:19 am Reply

    aku sangat terharu membaca nya,,sungguh besar pengorbanan mereka yang terus berjuang mencapai cita citanya,,
    aku mendukung penrjuangan mereka,,semoga mereka mendapat apa yang mereka inginkan,,,

  5. Desti Nurhayati October 6, 2012 at 8:18 am Reply

    subhanallah, ingin sekali saya seperti mereka yang berjuang tanpa keluh…saya pun ingin sekali mendapatkan beasiswa ke ITB seperti mereka, namun hati selalu ragu bahwa saya tak akan lolos… tapi setelah saya baca, insyaallah saya akan menetapkan hati untuk masuk ITB..

    “Jangan takut untuk mendapatkan sesuatu yang sangat besar, berjuang!! karena kita umat muslim punya senjata yang sangat ampuh,yakni ‘Doa’ dan ikhtiar…”(Ust. Yusuf Mansyur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: